Pergerakan harga emas masih menunjukkan tren positif. Apalagi setelah pemerintah Uni Eropa gagal mencapai kesepakatan mengenai paket penyelamatan Yunani. Selain itu, perekonomian AS masih menunjukkan tanda-tanda melambat. Dua faktor tadi bisa mendongkrak permintaan emas sebagai investasi alternatif.
Pemerintah Eropa gagal menyepakati penggelontoran pembayaran pinjaman untuk menghindari Yunani dari gagal bayar utang (default). Kondisi ini juga menekan Perdana Menteri Yunani George Papandreou untuk segera melakukan pemangkasan anggaran di tengah aksi demonstrasi yang bergolak di negara itu.
Namun menteri keuangan zona euro juga sepakat bahwa mereka akan mencari utang sukarela untuk melakukan rollover utang Yunani oleh pemegang obligasi swasta untuk mendanai sebagian besar persyaratan pembiayaan Yunani dalam tahun-tahun mendatang
Kenaikan baru di emas didorong oleh masalah utang di Eropa, inflasi ketakutan di China menyusul data ekonomi yang kuat dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi AS.
Survei Bloomberg yang lakukan terhadap 23 pialang, sebanyak 15 pialang di antaranya mengatakan harga emas akan menguat minggu depan. Lima pialang lainnya memprediksi harga emas akan tetap melemah dan sisanya bersikap netral.
Namun, investor perlu mewaspadai beberapa sentimen penekan harga emas ke depan. Yakni, penerapan kebijakan pengetatan moneter. Salah satunya berbentuk pengerekan bunga acuan di negara-negara konsumen emas terbesar dunia. Misal, di India dan China. Setelah China menaikkan giro wajib minimum bank, India menyusul dengan mengerek bunga acuan untuk ke-10 kalinya.
Secara Teknikal, harga emas sempat mengalami koreksi harga, Juni harga emas masih berpotensi naik menembus $1.550 -$ 1.560 hingga akhir bulan ini. Ditambah sentimen ketidakjelasan penyelesaian utang Yunani, predikat emas sebagai safe haven bakal semakin melambungkan harga logam mulia ini.
sumber:https://www.goldgram.co.id/news_detail.php?id=108
0 komentar:
Poskan Komentar